Membangun Kepedulian bagi Perempuan Korban Kekerasan


Wacana pemberdayaan perempuan termasuk perlunya pengarusutamaan jender (gender mainstreaming) dalam berbagai kebijakan negara sebenarnya sudah mulai mewarnai cara pandang masyarakat kita. Apalagi dengan munculnya Megawati Soekarnoputeri sebagai perempuan Indonesia pertama yang menjadi presiden, dianggap sebagai sejarah penting berkaitan dengan usaha keadilan jender. Namun, kenyataan sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat masih sangat menyedihkan, di mana masih banyak kaum perempuan yang harus berjuang keras “menghindari” beragam bentuk kekerasan berbasis jender (violences against women based gender), baik domesik maupun publik.  

Wilayah domestik masih merupakan penyumbang terbesar terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi. Krisis ekonomi yang berdampak pada merosotnya pendapatan keluarga, yang selama ini bertumpu pada sumber tunggal: suami, menghadirkan kecenderungan kuat terhadap munculnya kekerasan terhadap perempuan di lingkungan rumah tangga. Kekerasan terhadap perempuan (istri dan anak-anak) menjadi katarsis bagi keresahan psikologis suami/bapak akibat keruwetan ekonomi keluarga.

Padahal tanpa alasan keruwetan ekonomi sekalipun, kekerasan di lingkungan domestik yang dikenal dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), menyumbang sangat besar angka kekerasan terhadap perempuan selama ini.

SMK Kesehatan KH. Moh. Ilyas Ruhiyat Cipasung – Tasikmalaya

Kembang Setaman. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, merupakan bentuk investasi sangat berharga bagi masa depan bangsa. Sekaligus menjadi sakaguru bagi upaya memotong mata rantai kemiskinan melalui perbaikan kondisi perekonomian keluarga. 

Hak-Hak Perempuan Sejak Hamil Hingga Pasca Melahirkan

Kehamilan bagi kebanyakan pasangan suami istri merupakan masa yang sangat ditunggu-tunggu. Namun, ada pula kehamilan yang merupakan hal yang sangat dihindari, dengan berbagai alasan yang bisa diterima maupun tidak, misalnya alasan kesehatan, keuangan dan mungkin karena pasangan tersebut belum terikat perkawinan yang sah, sehingga kadang-kadang memutuskan untuk melakukan aborsi.

Hari Perempuan Internasional dan Ulang Tahun Ibu Sinta Nuriyah

Dalam rangka Hari Perempuan Internasional dan Ulang Tahun ibu Sinta Nuriyah yang jatuh pada tanggal 8 maret 2012 kemarin, Puan Amal Hayati mengadakan Advokasi Kesehatan Reproduksi bagi Perempuan berupa Pemeriksaan Pap Smear Gratis kepada seratus warga sekitar, di kantor Puan Amal Hayati Jl. Warung Sila No. 32 A pada hari Sabtu, 10 dan 17 Maret 2012.